Survei Tak Dapat Cerminkan Hasil Pilpres 2019

Ilustrasi

Suvei elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi yang berhadapan di Pilpres 2019 beberapa kali muncul, bahkan di awal masa kampanye. Akan tetapi, perolehan elektabilitas yang dirilis berbagai lembaga survei itu belum tentu mencerminkan hasil pemilu.

Hal itu diutarakan anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia, Hamdi Muluk. Ia menyebut hasil survei sebelum pemilu yang marak dipublikasikan lebih mirip jajak pendapat.

“Yang paling jauh dari pemilu adalah survei pra pemilu, enam sampai tujuh bulan seperti itu, itu baru prediksi awal tentang kecendrungan orang memilih siapa. Memang bisa bergeser dengan drastis,” kata Hamdi saat diskusi Populi Center dan Smart FM bertema ‘Survei dan Demokrasi’ di Gado-gado Boplo, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (9/3).

Hamdi kemudian mencontohkan putaran kedua Pilgub DKI Jakarta 2017. Pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat banyak yang memprediksi menang, akan tetapi kenyataanya kalah dari Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

“Terus orang bilang survei salah dong. Ini kan cara berpikir yang keliru betul. Karena ini, para ahli baru menanyakan pendapat, belum menanyakan sesungguhnya,” jelasnya.

Menurutnya, perbedaan hasil survei dengan hasil pemilu juga karena ada rentang waktu pemilih untuk berubah pikiran. Faktor perubahan itu di antaranya situasi dan kejadian politik.

Lebih lanjut, ia menjelaskan lembaga survei juga memilik program exit poll, yakni untuk menghitung hasil pemilu dengan menanyakan langsung kepada pemilih yang telah mencoblos. Akan tetapi, hasil tersebut belum tentu akurt karena pemilih bisa berbohong.

Hamdi mengatakan program tersebut memiliki perbedaan dengan quick count atau hitung cepat yang memiliki akurasi tinggi. Sebab quick count dilakukan usai perhitungan suara.

Sementara Komisioner KPU RI Hasyim Asy’ari menyatakan, lembaga survei sangat membantu KPU. Keberadaan lembaga itu juga menjadi indikator majunya demokrasi.

“Mengapa ini penting bagi KPU, terutama exit poll. Itu publik sudah tahu sejak awal sebetulnya siapa dapat berapa, atau siapa yang menang. Itu menjadi semacam dorongan psikologis orang untuk tenang,” ujar Hasyim di lokasi yang sama.

Namun, ia mengajak masyarakat untuk memverifikasi kredibilitas lembaga survei. Sebab banyak lembaga survei bermunculan menjelang pemilu. Hasyim pun berpendapat lembaga survei sebaiknya masuk kepada sebuah organisasi survei untuk dapat stigma keprofesiannya.

“Masyarakat bisa melihat lembaga survei yang sering mempublikasikan hasil surveinya, melihat orang-orang di dalamnya punya ilmu penelitian atau tidak dan sebagainya,” tutur Hasyim

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*